Sejarah Penginjilan di Tanah Batak

Sejarah RMG di Tanah Batak

Peran Misi Protestan Jerman dalam sejarah Tanah Batak dan dalam perkembangan masyarakatnya tidak dapat disangkal lagi. Namun yang masih diperdebatkan, ialah sikap para misionaris dalam proses penjajahan Tanah Batak. Berdasarkan dokumen-dokumen otentik (surat dan artikel para misionaris), Uli Kozok membuktikan bahwa para misionaris meminta Pemerintah Belanda agar menganeksasi daerah Silindung dan Toba, bahkan ikut sendiri secara fisik dalam Perang Batak I, tahun 1878. “Koalisi Injil dan pedang” yaitu koalisi Zending Batak dan pemerintah kolonial ini bukan saja bermakna untuk daerah Batak semata. Ia merupakan salah satu satu aspek sejarah kolonial seluruh Indonesia. Namun koalisi ini harus dipahami dalam konteks ideologinya masa itu. Uli Kozok menguraikan secara terperinci berbagai konsep yang mendasari sikap para misionaris dan yang merupakan asas upaya misi serta juga asas upaya penjajahan. (Kutipan dari sampul buku)
Peranan Nomensen dalam Perang Toba
Penelitian Dr. U. Kozok tentang peran para penginjil Jerman dari Rheinische Missionsgesellschaft (RMG), terutama Ludwig Ingwer Nommensen, dalam rangka Perang Toba Pertama (1878) dibukukan pada tahun 2010. Sebagian buku tersebut dapat dibaca di blog http://nommensen.wordpress.com.

Publikasi “Utusan Damai di Kemelut Perang: Peran Zending dalam Perang Toba” menyorot peran penginjil Jerman dari RMG (cikal bakal VEM), terutama Ludwig Ingwer Nommensen, dalam Perang Batak Toba Pertama. Pada tahun 1877 para missionaris RMG memanggil tentara pemerintah kolonial Belanda karena mereka merasa terancam oleh pasukan Singamangaraja XII dan karena takut keberhasilan zending akan lenyap apabila para misionaris diusir dari Silindung dan Bahal Batu. Panggilan misionaris disambut oleh pihak pemerintah kolonial dan pada tanggal 6 Februari 1878 pasukan Belanda tiba di Pearaja, kediaman penginjil Ludwig Ingwer Nommensen. Setelah beberapa saat tinggal di gereja pertama di Tanah Batak, dan sambil menunggu pasukan tambahan dari Sibolga, para tentara bersama dengan penginjil Nommensen sebagai penerjemah dan penunjuk jalan berangkat ke Bahal Batu untuk menyusun benteng pertahanan.

Sisingamangaraja yang merasa terprovokasi mengumumkan perang (pulas) pada tanggal 16 Februari 1878. Pemerintah Belanda dan para penginjil memutuskan agar lebih baik untuk tidak hanya menyerang markas Singamangaraja di Bangkara tetapi untuk sekalian mendamaikan seluruh Toba. Penginjil L.I. Nommensen dan pendeta Simoneit mendampingi pasukan Belanda pada perjalanan ekspedisi militernya dari bulan Februari hingga Mei 1878 sambil mencatat peristiwa-peristiwa yang terjadi selama ekpedisi militer tersebut.

Puluhan kampung (huta) Batak dibakar dan para raja huta dipaksa menandatangani sumpah setia pada pemerintah Belanda dan membayar pampasan perang. Jumlah korban jiwa di pihak Sisingamangaraja tidak diketahui dengan pasti namun bisa mencapai puluhan atau bahkan ratusan orang. Penginjil Nommensen yang mendampingi tentara penjajah dalam ekspedisi militer mencatat secara akurat kisah berlangsungnya Perang Toba Pertama. Catatan Nommensen ini untuk pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Selain keterlibatan para penginjil RMG dalam Perang Toba, buku ini juga menyoroti latar belakang ideologi RMG yang pada saat itu ditandai oleh paham rasisme, dan kecenderungen RMG dan para penginjil untuk tidak hanya berpihak pada pemerintah kolonial, melainkan untuk secara aktif mendukung penjajahan. Hal itu terutama kelihatan pada medan zending RMG yang utama di Namibia, dan menjelaskan mengapa para misionaris di Tanah Batak secara sukarela bersedia menjadi kaki tangan kolonial Belanda.

Kozok, Uli. Utusan Damai di Kemelut Perang. Peran Zending dalam Perang Toba berdasarkan Laporan L.I. Nommensen dan Penginjil RMG lain. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor, École française d’Extrême-Orient. Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial, Unimed, Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Jakarta 2011. 217 hal. ISBN 9789794617762 Harga: Rp. 50.000
  1. Bernard SiagianBernard Siagian01-23-2016

    Di mana bisa dapat memperoleh buku tersebut? Apakah ada di Toko Buku BPK Gunung Mulia, Jl, Kwitang Jkt?

    • Dr. Uli KozokDr. Uli Kozok01-24-2016

      Anda bisa memesannya langsung dari penerbit Yayasan Obor. Salam dari Hawai’i, u. kozok

      • Darwin H TambunanDarwin H Tambunan03-29-2016

        Salam kenal Prof, kebetulan saat ini saya sedang melakukan penelitian tentang “Pengobatan Tradisional Para Datu Dalam Perspektif Antropologi Kesehatan” studi yang saya lakukan berada di Kabupaten samosir. Berkaitan dengan penginjilan yang dilakukan oleh I.L Nomensen pada saat itu, ada tidak misi kristenisasi ini merubah/mengaburkan Pola Pengobatan Tradisional para Datu di tanah batak prof??
        sebab Pengobatan Tradisional orang Batak itu sendiri selalu bias dengan ajaran kristen dan katolik, karena selalu dikaitkan dengan hal yang “Supranatural” yang dianggap “Irasional”. Namun disisi lain saat ini masih banyak masyarakat batak baik dari desa maupun kota, melakukan pengobatan tradisional orang batak itu sendiri, demi mendapatkan kesembuhan dari seorang Datu.
        untuk itu saya mau menanyakan ada tidak Prof. Uli menemukan hal-hal tersebut saat melakukan penelitian ditanah Batak.
        Regards,
        Darwin H Tambunan

        • Dr. Uli KozokDr. Uli Kozok03-29-2016

          Hendaknya Anda membaca karya Winkler “Die Toba Batak in Gesunden und Kranken Tagen” – studi mengenai para datu zaman dahulu. Para misionaris, termasuk Nommensen, sangat percaya pada pengobatan tradisional Jerman, tetapi meremehkan pengobatan tradisional Batak. Aneh, karena kedua-duanya berdasarkan bahan alami seperti rempah dsb. Masalahnya, para misionaris menganggap dirinya unggul dibandingan dengan suku Batak yang mereka anggap primitif dan biadab.

          • Darwin H TambunanDarwin H Tambunan03-30-2016

            Terima kasih Prof untuk info dan masukannya, beberapa hari ini saya sudah mencari karya Winkler tentang “Die Toba Batak in Gesunden und Kranken Tagen” di google prof namun tidak ketemu versi bahasa indonesia maupun inggris. mohon maaf sebelumnya prof, bila berkenan bolehkah saya meminta soft copy file karyanya J.Winkler prof?Hal ini sangat penting bagi saya untuk menambah wawasan serta referensi untuk penelitian tesis yang berjudul “Pengobatan Tradisional Para Datu Dalam Perspektif Antropologi Kesehatan”. – Horas –

          • Dr. Uli KozokDr. Uli Kozok06-11-2016

            Die Toba Batak in Gesunden und Kranken Tagen harus dicari di perpustakaan. Tidak ada di Google Books.

  2. Arie MP TambaArie MP Tamba03-03-2016

    Buku menarik dan informatif seperti halnya Kitab Tanjung Tanah. Ditunggu hasil penelitian lainnya. Tks

  3. dewanto sinuratdewanto sinurat07-25-2016

    Dua sejarah

  4. MLF.NasutionMLF.Nasution08-03-2016

    Terimakasih.
    Bagi Bapa dalam nama Yesus Kristus,yang mengasihi kami sebagai orang Batak.Bapa,saya rindu dan menyatu Gereja mula mula,yang di bawa oleh omp:Nomensen dari Jerman misionaris penginjilan.berhubung sebagai Nenek moyang kami di abad 18.Yesus hadir mengurapi lewat kebenaran Firman-Nya.maka saya pribadi masuk sebagai pengikut Kristus yang mau terus suarakan lewat Facebook. …salam semuanya
    TUHAN BERKATI

  5. ArjonArjon10-02-2016

    Pak Uli Kozag, saya pernah membaca tulisan yang mengatakan bahwa kitab suci orang batak ada 2 yaitu 1. Pustaha Tumbaga Holing dan 2. Buku Laklak. Pustaha Tumbaga Holing berisi tentang Patik/Uhum-Adat Batak, dan Buku Laklak berisi tentang kesaktian. Saya percaya Pak Uli Kozag paham akan hal ini, kalau boleh tahu pak apakah masih ada buku aslinya itu atau duplikatnya [copy paste] dimana bisa kita temukan.
    Terima Kasih
    Drs. A. Marbun

    • Dr. Uli KozokDr. Uli Kozok10-04-2016

      Buku laklak itu sama dengan pustaha. Laklak itu jenis pohonnya. Kalau Pustaha Tumbaga Holing itu adalah mitos. Pustaha Tumbaga (tembaga) Holing (Keling) merujuk pada kebiasaan di zaman dahulu kala untuk menulis di lempengan tembaga. Walaupun orang Batak tidak pernah menggunakan tembaga sebagai bahan tulis, mereka pasti pernah melihat adanya naskah yang ditulis di atas tembaga. Bagi orang Batak zaman dahulu Holing adalah tempat yang legendaris. Holing merujuk pada Kalinga (Coromandel), sebuah kerajaan di pantai timur India. Di dahulu kala banyak kapal lalu lalang antara Kalinga dan pelabuhan-pelabuhan di Sumatra, termasuk Barus.

Leave a Reply